![]() |
| Abil |
SEHARI kemarin, Minggu, 1 Juni 2014, Dani, anak
keduaku, bercerita dengan semangat jika adiknya sudah mulai bisa bersepeda roda
dua.
Yah, awal bulan Juni ini, udah tiga bulan lewat, aku berada di Denpasar Bali.
Yah, awal bulan Juni ini, udah tiga bulan lewat, aku berada di Denpasar Bali.
Kali ini, aku mendapat tugas bantu-bantu Tribun
Bali. Sejak 23 Februari 2014 lalu. Tribun Bali terbit awal April 2014 lalu.
Di seberang, Dani bercerita, jika adik bungsu, Abil, sudah tak lagi memakai roda penyangga. Dani berceloteh, roda kecil penyangga sepeda pancal Abil sudah dicopot.
“Mas Dani yang mencopot, pa,” timpal Byan, anak ketigaku.
Byan turut bercerita, jika adiknya, Abil, masih acapkali terjatuh. Tetapi, adiknya gak nangis. Abil kembali mengayuh sepedanya.
Senang rasanya mendengar Abil sudah bisa naik sepeda sendiri. “Tapi tadi dipegangi mas Dani,” ujar Abil penuh semangat.
Ya, Abil, anak bungsu dari empat bersaudara ini lebih tangguh dibanding kakak-kakaknya. Uyeng-uyengnya ada tiga. Sehingga, aku sudah bisa membayangkan, jikapun terjatuh dari sepedanya, ia tak akan nangis. Apalagi, semangatnya untuk bisa naik sepeda roda dua seperti kedua kakak lelakinya sangat besar.
“Pa, belikan jagang
ya,” katanya.
Karena roda penyangga sudah dicopot, maka wajar jika Abil meminta penyangga dari besi atau yang kerap disebut jagang.
Kini, setiap sore, ketiga anak lelakiku bersepeda
keliling komplek perumahan kami. Semangat my boys!
Denpasar, 2 Juni 2014.

No comments:
Post a Comment