Wednesday, 6 August 2008

Kalau Gak Juara Bagaimana?

Agustus
merupakan bulan yang ditunggu anak-anak, termasuk Safa dan Dani. Kedua anakku ini senang, karena akan ada lomba-lomba selama bulan Agustus. Seperti yang dilakukan pada Sabtu-Minggu (2-3 Agustus 2008). Sabtu sore, kedua anakku sudah bersiap-siap. Sejak pukul 15.00, mereka sudah pada mandi dan makan. Karena syarat untuk bisa ikut lomba harus sudah mandi dan sudah makan…. pinter juga panitianya.
Padahal salah satu lombanya pukul kendi, meski saat ini yang dipukul adalah air yang ditaruh di kantong plastik, bukan kendi lagi.
Safa berhasil menjadi juara tiga dalam pukul kendi, sedang Dani tak ikut. Setelah aku tanya, dia bilang… “Kalau tidak jadi juara bagaimana, Pa?”


Tampaknya Dani malu, jika ia tak mendapat nomor juara pada perlombaan. Apalagi, ia melihat salah satu temannya menangis ketika kalah dalam perlombaan. Ia pun mender. Ini kesempatan bagiku untuk memupuk mental bertarung pada anak-anakku.
Kalah dan menang bukan soal, tetapi proses untuk ikut meramaikan, untuk bersosialisasi, untuk tampil, dan berani melakukan sesuatu adalah yang paling utama.
Berbagai support kami lakukan kepada Dani. Aku dan istriku sepakat untuk memberikan support lebih pada Dani. Kami berupaya menyakinkan padanya; yakinlah menang anakku.
Kalau pun kalah, kami sepakat untuk memujinya karena sudah berani tampil dan berbuat sesuatu.
Ditambah rayuan Safa, kakaknya, akhirnya Dani pun ikut pertandingan memasukkan paku di botol. Apalagi, Dani melihat kakaknya Safa menjadi juara pertama dalam memasukkan paku ke dalam botol ini.
Paku yang diikat dengan tali rafia, lalu diikatkan di pinggang Dani, paku dengan tali rafia ini menjuntai seperti ekor. Tugas Dani, adalah memasukkan paku ini ke dalam botol, dengan cara jongkok.
Peluit panitia pun berbunyi, Dani bersama teman-temannya lari dari garis start, menuju masing-masing botol. Tiba di botol, Dani berbalik menghadap, lalu jongkok berupaya memasukkan paku yang ada di ujung ‘ekor’. Tepuk riang para supporter bergemuruh. Safa yang berada di dekat Dani terus mmberikan instruksi-instruksi.
Satu anak sudah berhasil memasukkan paku ke dalam botol. Ternyata, deg-deg-an juga, karena melihat Dani masih berupaya memasukkan paku ke botol sambil nunduk-nunduk melihat paku dari arah selangkangannya.
Dan, plong, akhirnya Dani berhasil memasukkan paku. Ia bersamaan dengan satu temannya. Dani didaulat menjadi juara kedua.
Inilah perlombaan pertama yang diikuti Dani dalam rangka Agustusan. Kami bersyukur, lomba pertamanya, Dani berhasil menjadi juara dua. Dan, tentu, itu merupakan awal yang baik bagi pertumbuhan mentalnya. Meski, kalah dan menang bukan soal, tetapi proses untuk ikut meramaikan, untuk bersosialisasi, untuk tampil, dan berani melakukan sesuatu adalah yang paling utama.
by
6 Agustus 2008

1 comment:

safanytasticSONE said...

aq lah pemenangx! sekarang sdh gk ada lomba kyk gtu2 lagi ya...