Friday, 27 June 2008

Kalau Sudah Nabung...


Kalau sudah nabung, aku boleh beli crayon ya Pa?" Kalimat ini disampaikan anakku Dani tadi pagi. Ketika mbak Afa, meminta dibelikan crayon, sementara
Dani meminta dibelikan mainan robot. Begitu tahu, kakaknya minta crayon, maka Dani pun berucap seperti diawal kalimat ini.
Sebelumnya, aku memang menjanjikan kepada anak-anakku untuk membelikan sesuatu sebagai hadiah jika nilai rapor mereka baik. maka, Dani pun meminta dibelikan mainan robot, sedang Safa, anak sulungku meminta dibelikan crayon. Mendengar itu, Dani juga ingat jika crayonnya juga sudah pada habis. Maka ia pun berkomentar, ia akan menabung dulu untuk membeli crayon

Dani memang lebih pandai merayu daripada Safa. Ia pandai mengambil hati. Tapi, aku tak ingin membedakan anak-anakku. Aku berupaya untuk bersikap sama, meski terkadang, hati ini "tergoda" oleh sikap Dani.



Karena itu, jika satu hadiah yang kami (aku dan istriku) janjikan, maka anak-anak akan memprioritaskan dengan sendirinya apa yang harus paling mereka inginkan. Nah, kalau sudah lebih... maka, aku menganjurkan bagi anak-anakku menabung terlebih dahulu

Seperti halnya kala membeli sepeda baru. Safa dan Dani yang menginginkan sepeda baru, karena memang sepedanya saat itu sudah tak lagi sesuai dengan umurnya. kami 'berdiskusi' dengan anak-anak, yang akhirnya anak-anak harus menabung lebih dahulu.
istriku pun membelikan dua buah celengan plastik, yang banyak dijual di pasar dengan harga murah dan motif bermacam-macam. setiap anak mendapat satu celengan. dan sebagai konsekwensi dari menabung ini, kami menyiapkan uang logam pecahan Rp 500 atau Rp 1000 setiap harinya. sedang, tabungan di sekolah, diambilkan dari sebagian uang saku yang diberikan istriku kepada mereka.
hasilnya, begitu agak penuh maka mulailah diunduh. tabungan dipecah, uang dihitung dan ditata. kami lakukan bersama-sama. setelah itu, uang logam tersebut kami bawa ke toko penjual sepeda.
semula terjadi diskusi antara aku dan istriku, apakah uang logam ini harus kami tukarkan dulu, atau langsung dibawa begitu saja, apa adanya. akhirnya, kami sepakat untuk dibawa begitu saja, biar anak-anak melihat langsung dan merasakan, bahwa hasil jerih payahnya (baca: menabung) membuahkan hasil, yakni untuk membayar pembelian sepeda yang diinginkannya.begitu tiba di toko sepeda, om dan tante (orang thionghoa) pun tersenyum, ketika anak-anak memberikan kantong plastik berisi uang hasil tabungannya tersebut. istriku pun bercerita kepada penjual sepeda, bahwa itu hasil tabungan mereka, jadi uangnya logam.
rupanya, si om baik hati juga. mereka memuji anak-anakku. dan itu membuat mereka bangga dan bahagia. mereka merasa mampu membeli sepeda sendiri. meski, untuk mendapatkan sebuah sepeda, istriku harus membuka dompetnya untuk menambah Rp 100.000.
kebanggaan dan kebahagiaan anak-anakku terus dibawanya, ketika mereka bersepeda dengan teman-temannya di depan rumah. Dani pun berujar pada teman-temannya, "sepedaku baru, aku beli sendiri dari menabung"
tampaknya, peristiwa kali pertama ini membekas dalam benak Dani dan Safa. Sehingga, setiap mereka menginginkan sesuatu, mereka akan mengawalinya dengan berkata; "Pa, aku nabung dulu ya untuk membeli...."

1 comment:

safanytasticSONE said...

tpi yg penting exis,, khan skrang buktix yg rajin nabung aq..