Selasa, 02 September 2008

Asyik Puasa

Asyik Puasa...!

BULAN Ramadan membawa kebahagiaan sendiri bagi anak-anakku; Safa dan Dani. Hari Sabtu itu, mereka berdua mulai hangat membicarakan bulan puasa. Safa berujar akan puasa penuh sehari. Tahun lalu, Safa puasa bedug, ketika waktu Dzuhur masuk, Safa berbuka, dan usai makan dan minum, kembali melanjutkan puasa hingga adzan maghrib berkumandang.
Dani lebih bersemangat lagi. Katanya; "Asyik besok puasa. Berarti aku tidak makan".
Hah. Akhir-akhir ini selera makan Dani memang berkurang. Ia sulit sekali untuk makan. Mesti harus terjadi 'pertempuran' dulu dengan umiknya. Dani memilih untuk minum susu banyak-banyak daripada harus menelan nasi. Jadi, senang puasa karena pagi dan siang hari tak makan ya..... :))

Bulan Ramadan membuat anak-anak bergembira. Terlepas, apa arti bulan puasa bagi mereka. Tapi, kegembiraan menyambut datangnya bulan penuh rahmat juga ada pada anak-anak. Kegembiraan ini tampak tatkala pada malam pertama, Minggu (31/8) malam, kedua anakku (cerita umiknya -maklum aku masih di Surabaya), bersemangat sekali untuk pergi ke masjid. Menjalankan ibadah taraweh yang hanya ada pada bulan Ramadan.
Kegembiraan ini juga dirasa anak-anak lain di lingkungan perumahan kami. Mereka berbondong-bondong dengan berjalan kaki berangkat ke masjid terdekat untuk taraweh. Meski, di masjid, anak-anak ini hanya mampu melakukan sholat isya' sahaja. Sebab, yang berlaku kemudian, mereka terlibat dengan bermain bersama teman-temannya di lingkungan masjid.

Hari pertama puasa pun dilalui. Semangat mereka masih tampak, ketika dibangunkan untuk sahur. Dani yang bermalas-malasan, langsung bangun ketika disebut; ayo sahur. Demikian pula dengan Safa. Alhasil, pintu pertama puasa hari pertama Ramadan pun dilalui.
Kegembiraan masih tampak hingga pagi hari menjelang. Anak-anak masih asyik bermain di halaman depan rumah bersama teman-temannya. Mereka juga saling berujar dengan bangganya, ketika menyebut bahwa mereka puasa.
Hingga siang menjelang. Terik matahari menyengat. Dani yang sudah waktunya berbuka, karena puasa bedug, menolak makan. Ia hanya meminta untuk minum susu.
Safa mulai kelihatan gelisah. Ia tampaknya kehausan setelah seharian bermain dengan teman-temannya. Melihat Dani minum, ia pun tergoda. Berkali-kali meminta izin Umiknya, tetapi tak mendapat respon. Akhirnya, kedua anakku tidur siang.
Sore menjelang, rasa haus dan lapar kembali menerpa Safa. Ia pun meminta izin untuk sekedar minum susu saja. Tapi, kami mencoba melatihnya. Sesorean itu, Safa rewel sekali. Hingga akhirnya, aku ajak anak-anak jalan-jalan untuk mencari takzil.
Safa kembali antusias. Ia pun meminta bermacam-macam makanan. Sedang Dani tertarik dengan kembang api.
Begitu adzan maghrib berkumandang, Safa langsung mengambil minum, dan memakan sedikit kue takzilnya.
"Ternyata sudah kenyang ya.. Padahal tadi rasanya lapar sekali," ujar Safa.
Kami pun menerangkan, bahwa rasa haus dan lapar kala berpuasa adalah sebuah ujian. Yang, tentunya harus kita lalui, jika ingin lulus dengan baik.
Adzan isya' pun berkumandang. Kami bersiap-siap diri untuk berangkat ke masjid, bertaraweh.

2 Agustus 2008.
























Rabu, 06 Agustus 2008

Kalau Gak Juara Bagaimana?

Agustus
merupakan bulan yang ditunggu anak-anak, termasuk Safa dan Dani. Kedua anakku ini senang, karena akan ada lomba-lomba selama bulan Agustus. Seperti yang dilakukan pada Sabtu-Minggu (2-3 Agustus 2008). Sabtu sore, kedua anakku sudah bersiap-siap. Sejak pukul 15.00, mereka sudah pada mandi dan makan. Karena syarat untuk bisa ikut lomba harus sudah mandi dan sudah makan…. pinter juga panitianya.
Padahal salah satu lombanya pukul kendi, meski saat ini yang dipukul adalah air yang ditaruh di kantong plastik, bukan kendi lagi.
Safa berhasil menjadi juara tiga dalam pukul kendi, sedang Dani tak ikut. Setelah aku tanya, dia bilang… “Kalau tidak jadi juara bagaimana, Pa?”
Tampaknya Dani malu, jika ia tak mendapat nomor juara pada perlombaan. Apalagi, ia melihat salah satu temannya menangis ketika kalah dalam perlombaan. Ia pun mender. Ini kesempatan bagiku untuk memupuk mental bertarung pada anak-anakku.
Kalah dan menang bukan soal, tetapi proses untuk ikut meramaikan, untuk bersosialisasi, untuk tampil, dan berani melakukan sesuatu adalah yang paling utama.
Berbagai support kami lakukan kepada Dani. Aku dan istriku sepakat untuk memberikan support lebih pada Dani. Kami berupaya menyakinkan padanya; yakinlah menang anakku.
Kalau pun kalah, kami sepakat untuk memujinya karena sudah berani tampil dan berbuat sesuatu.
Ditambah rayuan Safa, kakaknya, akhirnya Dani pun ikut pertandingan memasukkan paku di botol. Apalagi, Dani melihat kakaknya Safa menjadi juara pertama dalam memasukkan paku ke dalam botol ini.
Paku yang diikat dengan tali rafia, lalu diikatkan di pinggang Dani, paku dengan tali rafia ini menjuntai seperti ekor. Tugas Dani, adalah memasukkan paku ini ke dalam botol, dengan cara jongkok.
Peluit panitia pun berbunyi, Dani bersama teman-temannya lari dari garis start, menuju masing-masing botol. Tiba di botol, Dani berbalik menghadap, lalu jongkok berupaya memasukkan paku yang ada di ujung ‘ekor’. Tepuk riang para supporter bergemuruh. Safa yang berada di dekat Dani terus mmberikan instruksi-instruksi.
Satu anak sudah berhasil memasukkan paku ke dalam botol. Ternyata, deg-deg-an juga, karena melihat Dani masih berupaya memasukkan paku ke botol sambil nunduk-nunduk melihat paku dari arah selangkangannya.
Dan, plong, akhirnya Dani berhasil memasukkan paku. Ia bersamaan dengan satu temannya. Dani didaulat menjadi juara kedua.
Inilah perlombaan pertama yang diikuti Dani dalam rangka Agustusan. Kami bersyukur, lomba pertamanya, Dani berhasil menjadi juara dua. Dan, tentu, itu merupakan awal yang baik bagi pertumbuhan mentalnya. Meski, kalah dan menang bukan soal, tetapi proses untuk ikut meramaikan, untuk bersosialisasi, untuk tampil, dan berani melakukan sesuatu adalah yang paling utama.

by
6 Agustus 2008

Senin, 07 Juli 2008

Jangan Marahi Anak Sakit!


"Aku kepingin ke jember karena banyak saudaraku, aku sudah dijemput sama tante ya,tiba2 aku sakit, aku kepingin berkata ya Allah sembuhkanlah aku."


Bait kata ini ditulis Safa, anakku di hari keduanya ia masuk rumah sakit. Safa yang sudah merencanakan liburannya, harus terbaring di kamar flamboyan 6 RS Gatoel. Takdir berkata lain. Ia terserang typhus dan radang tenggorokan. suhu tubuhnya naik turun. beberapa kali, panas tubuhnya mencapai 40 lebih derajat celcius.
Safa masuk rumah sakit sejak hari sabtu lalu. saat itu, suhu tubuhnya mencapai 41 lebih. badannya lemas. Ia harus menjalani opname. hari kamis, istriku telpon, kondisi safa menurun, ia terus muntah-muntah. makan bubur dua sendok saja, trus muntah, seluruh isi perutnya keluar. pun demikian pula saat minum obat.
Akhirnya, jumat aku tak kerja. kondisi safa terus menurun, diare tak henti, muntah juga tak berhenti. Obat harus masuk! ini yang ada dalam pikiranku. karena kekalutan itu, aku pun memaksa, bahkan mengancamnya agar meminum obat tanpa muntah.
itu aku lakukan karena kekalutan yang melandaku. aku hilang akal dan kesabaran, ketika rayuan tak lagi mempan. sedang kondisi safa terus melemah, muntah-muntah dan diare yang tak henti.
Karena sikap kerasku, ancaman dan bentakan, membuat safa takut. ia menelan obatnya dan menahan untuk tak muntah. memang obat masuk, safa tak muntah. ia pun tidur dengan nyenyak. tapi, ada yang ganjil. safa tidur ngorok keras sekali.
malam dini hari, tiba-tiba ia terbangun, dan safa kembali muntah-muntah. Kali ini ada darah dalam muntahnya. hatiku hancur! aku berdosa telah mengancam dan membentaknya. mungkin sikapku itu baik, setidaknya begitu pikiranku kala itu. tetapi setelah melihat darah bercampur muntah, aku sadar, aku salah!
hari sabtu, muntah safa mulai berkurang, tetapi diare masih terus keluar. sudah habis 16 pics pampers. sore hari kembali beli 16 pics pampers ukuran xxl.
diare masih tak berhenti, aku harus mengangkat safa keluar masuk kamar mandi. mamanya (anak-anakku memanggil umik) tampak lelah dan lesu. ia yang baru sembuh dari operasi kista, merasa perutnya kembali sakit, karena menggendong safa.
aku pun tak kerja, karena siapa yang akan menggendong safa, ketika ke toilet? safa masih terbaring lemah, ia baru saja memakai pampers baru. Ya, Robb semoga Engkau percepat kesembuhan anakku.
Kembali aku baca tulisan safa. aku tersadar. anakku ingin cepat sembuh. tapi, ia tak bisa menelan obatnya, dan tak ingin muntah. semoga ini menjadi pelajaran bagiku!

sabtu - 5 juli 2008
rs gatoel mojokerto

Jumat, 27 Juni 2008

Kalau Sudah Nabung...


Kalau sudah nabung, aku boleh beli crayon ya Pa?" Kalimat ini disampaikan anakku Dani tadi pagi. Ketika mbak Afa, meminta dibelikan crayon, sementara
Dani meminta dibelikan mainan robot. Begitu tahu, kakaknya minta crayon, maka Dani pun berucap seperti diawal kalimat ini.
Sebelumnya, aku memang menjanjikan kepada anak-anakku untuk membelikan sesuatu sebagai hadiah jika nilai rapor mereka baik. maka, Dani pun meminta dibelikan mainan robot, sedang Safa, anak sulungku meminta dibelikan crayon. Mendengar itu, Dani juga ingat jika crayonnya juga sudah pada habis. Maka ia pun berkomentar, ia akan menabung dulu untuk membeli crayon

Dani memang lebih pandai merayu daripada Safa. Ia pandai mengambil hati. Tapi, aku tak ingin membedakan anak-anakku. Aku berupaya untuk bersikap sama, meski terkadang, hati ini "tergoda" oleh sikap Dani.

Karena itu, jika satu hadiah yang kami (aku dan istriku) janjikan, maka anak-anak akan memprioritaskan dengan sendirinya apa yang harus paling mereka inginkan. Nah, kalau sudah lebih... maka, aku menganjurkan bagi anak-anakku menabung terlebih dahulu

Seperti halnya kala membeli sepeda baru. Safa dan Dani yang menginginkan sepeda baru, karena memang sepedanya saat itu sudah tak lagi sesuai dengan umurnya. kami 'berdiskusi' dengan anak-anak, yang akhirnya anak-anak harus menabung lebih dahulu.
istriku pun membelikan dua buah celengan plastik, yang banyak dijual di pasar dengan harga murah dan motif bermacam-macam. setiap anak mendapat satu celengan. dan sebagai konsekwensi dari menabung ini, kami menyiapkan uang logam pecahan Rp 500 atau Rp 1000 setiap harinya. sedang, tabungan di sekolah, diambilkan dari sebagian uang saku yang diberikan istriku kepada mereka.
hasilnya, begitu agak penuh maka mulailah diunduh. tabungan dipecah, uang dihitung dan ditata. kami lakukan bersama-sama. setelah itu, uang logam tersebut kami bawa ke toko penjual sepeda.
semula terjadi diskusi antara aku dan istriku, apakah uang logam ini harus kami tukarkan dulu, atau langsung dibawa begitu saja, apa adanya. akhirnya, kami sepakat untuk dibawa begitu saja, biar anak-anak melihat langsung dan merasakan, bahwa hasil jerih payahnya (baca: menabung) membuahkan hasil, yakni untuk membayar pembelian sepeda yang diinginkannya.begitu tiba di toko sepeda, om dan tante (orang thionghoa) pun tersenyum, ketika anak-anak memberikan kantong plastik berisi uang hasil tabungannya tersebut. istriku pun bercerita kepada penjual sepeda, bahwa itu hasil tabungan mereka, jadi uangnya logam.
rupanya, si om baik hati juga. mereka memuji anak-anakku. dan itu membuat mereka bangga dan bahagia. mereka merasa mampu membeli sepeda sendiri. meski, untuk mendapatkan sebuah sepeda, istriku harus membuka dompetnya untuk menambah Rp 100.000.
kebanggaan dan kebahagiaan anak-anakku terus dibawanya, ketika mereka bersepeda dengan teman-temannya di depan rumah. Dani pun berujar pada teman-temannya, "sepedaku baru, aku beli sendiri dari menabung"
tampaknya, peristiwa kali pertama ini membekas dalam benak Dani dan Safa. Sehingga, setiap mereka menginginkan sesuatu, mereka akan mengawalinya dengan berkata; "Pa, aku nabung dulu ya untuk membeli...."

Kamis, 26 Juni 2008

Laris Manis...


Laris manis... ini lah ungkapan yang disampaikan safa, putri pertamaku. safa yang duduk di bangku kelas 1 SDIT Permata Kota Mojokerto ini mengaku laris manis mendapat 'job' untuk mengisi liburan.
Job? Ini bukan arti sesungguhnya. Memasuki masa liburan selama dua pekan, membuat para saudara, mulai tante iva di jember, ibuk mamiek di sidoarjo, hingga mama tetty di tulungagung, mulai 'mendaftar' agar safa berlibur di tempat mereka.
bahkan, ibuk mamiek melalui mbak sheila berjanji akan menjemput safa. Tak kalah, tante iva juga berjanji akan ke mojokerto pada hari jumat, pekan ini. Tujuannya, tentu saja akan menjemput safa agar berlibur di jember.
apa komentar putri ku yang pintar ini? "Aku laris".
tapi, putri ku belum menentukan akan kemana ia liburan. sempat ia berkeinginan akan berlibur ke mbah galek (trenggalek), tapi ia tak mau sendiri. ia mau ajak mas dimas, mas dafi, dan mbak sheila sekalian.
la.. pinter kan anakku. "Enak main di sana bareng-bareng" celotehnya.
bagaimana dengan jember. keningnya pun berkerut. bibirnya bergerak seirama dengan bola matanya yang hitam, tanda ia sedang berpikir. "ke jember dulu, baru ke mbah galek".
Wekz... bagaimana dengan papa dan mama?

wah, liburan telah menjadi 'hak' dia untuk menentukan sendiri akan 'hidup' dimana dan dengan siapa. dibenak anak-anak, liburan panjang berarti bertandang ke rumah saudara.
bagi anak-anak seumur safa, liburan merupakan waktu yang baik untuk menghidupkan kembali tali silaturrahmi dengan saudara-saudaranya yang jauh. menggali kebahagiaan bersama dan menyimpannya dalam memori. mereka akan selalu mengenang masa-masa ini sampai mereka dewasa kelak.

26 juni 2008